Obat Pencernaan

Albendazole

 

Indikasi:
Albendazol berkhasiat membasmi cacing di usus yang hidup sebagai parasit tunggal atau majemuk.
Albendazol efektif untuk pengobatan cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), cacing kremi (Enterobius vermicularis), cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus), cacing pita (Taenia sp.) dan Strongyloides stercoralis.

Kontra Indikasi:
Albendazol menunjukkan sifat teratogenik embriotoksis pada percobaan dengan hewan. Karena itu obat ini tidak boleh diberikan pada wanita yang sedang mengandung. Pada wanita dengan usia kehamilan masih dapat terjadi (15 – 40 tahun), albendazol dapat diberikan hanya dalam waktu 7 hari dihitung mulai dari hari pertama haid.

Komposisi:
Tiap tablet kunyah mengandung albendazol 400 mg.

Cara Kerja:
Hasil percobaan preklinis dan klinis menunjukkan bahwa albendazol mempunyai khasiat membunuh cacing, menghancurkan telur dan larva cacing. Efek antelmintik albendazol dengan jalan menghambat pengambilan glukosa oleh cacing sehingga produksi ATP sebagai sumber energi untuk mempertahankan hidup cacing berkurang, hal ini mengakibatkan kematian cacing karena kurangnya energi untuk mempertahankan hidup.

Dosis:
Dosis umum untuk dewasa dan anak di atas 2 tahun :
400 mg sehari, diberikan sekaligus sebagai dosis tunggal. Tablet dapat dikunyah, ditelan atau digerus lalu dicampur dengan makanan.

Pada kasus dimana diduga atau terbukti adanya penyakit cacing pita atau Strongyloides stercoralis, dosis 400 mg albendazol setiap hari diberikan selama tiga hari berturut-turut.

Efek samping:
Perasaan kurang nyaman pada saluran pencernaan dan sakit kepala pernah terjadi pada sejumlah kecil penderita, tetapi tidak dapat dibuktikan bahwa efek samping ini ada hubungannya dengan pengobatan.

Juga dapat terjadi gatal-gatal dan mulut kering.

Perhatian:
Hati-hati bila diberikan pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal dan hati.
Jangan diberikan pada ibu menyusui.
Sebaiknya tidak diberikan pada anak-anak di bawah umur 2 tahun.

Cara Penyimpanan:
Simpan di tempat sejuk dan kering.

Kemasan:
Albendazole 400 mg, kotak 5 blister @ 6 tablet kunyah

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Jenis: Tablet

Chloramphenicol 250 mg

 

Indikasi:
1.Kloramfenikol merupakan obat pilihan untuk penyakit tifus, paratifus dan salmonelosis lainnya.
2.Untuk infeksi berat yang disebabkan oleh H. influenzae (terutama infeksi meningual), rickettsia, lymphogranuloma-psittacosis dan beberapa bakteri gram-negatif yang menyebabkan bakteremia meningitis, dan infeksi berat yang lainnya.

Kontra Indikasi:
Penderita yang hipersensitif atau mengalami reaksi toksik dengan kloramfenikol.
Jangan digunakan untuk mengobati influenza, batuk-pilek, infeksi tenggorokan, atau untuk mencegah infeksi ringan.

Komposisi:
Tiap kapsul mengandung 250 mg kloramfenikol

Cara Kerja:
Kloramfenikol adalah antibiotik yang mempunyai aktifitas bakteriostatik, dan pada dosis tinggi bersifat bakterisid. Aktivitas antibakterinya dengan menghambat sintesa protein dengan jalan mengikat ribosom subunit 50S, yang merupakan langkah penting dalam pembentukan ikatan peptida. Kloramfenikol efektif terhadap bakteri aerob gram-positif, termasuk Streptococcus pneumoniae, dan beberapa bakteri aerob gram-negatif, termasuk Haemophilus influenzae, Neisseria meningitidis, Salmonella, Proteus mirabilis, Pseudomonas mallei, Ps. cepacia, Vibrio cholerae, Francisella tularensis, Yersinia pestis, Brucella dan Shigella.

Dosis:
Dewasa, anak-anak, dan bayi berumur lebih dari 2 minggu :
50 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi 3 – 4.

Bayi prematur dan bayi berumur kurang dari 2 minggu :
25 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi 4.

Peringatan dan Perhatian:
Pada penggunaan jangka panjang sebaiknya dilakukan pemeriksaan hematologi secara berkala.

Hati-hati penggunaan pada penderita dengan gangguan ginjal, wanita hamil dan menyusui, bayi prematur dan bayi yang baru lahir.

Penggunaan kloramfenikol dalam jangka panjang dapat menyebabkan tumbuhnya mikroorganisme yang tidak sensitif termasuk jamur.

Efek Samping:
Diskrasia darah, gangguan saluran pencernaan, reaksi neurotoksik, reaksi hipersensitif dan sindroma kelabu.

Interaksi Obat:
Kloramfenikol menghambat metabolisme dikumarol, fenitoin, fenobarbital, tolbutamid, klorpropamid dan siklofosfamid.

Cara Penyimpanan:
Simpan di tempat sejuk dan kering, terlindung dari cahaya.

Kemasan:
Kotak 10 blister @ 12 kapsul

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Jenis: Capsul
Antasida Doen

 

Indikasi:
Grastritis, ulkus peptikum, menetralisir asam lambung. Hiperfosfatemia.Esofagitis refluks, esofagitispeptik

Kontra Indikasi:
Penderita yang hipersensitif terhadap aluminium atau magnesium.

Deskripsi:
N/A

Jenis: Tablet

Lopamid

 

Indikasi:

Diare non spesifik dan diare kronik.

Kontra Indikasi:

– Anak-anak di bawah usia 12 tahun.
– Wanita hamil dan menyusui.
– Kolitis akut, dapat menyebabkan megacolon toksik.
– Pada keadaan dimana konstipasi harus dihindari.

– Penderita yang hipersensitif terhadap obat ini.

Komposisi:
Tiap tablet mengandung:
Loperamid HCL ……………………… 2 mg

Farmakologi:
Loperamid merupakan anti spasmodik dimana mekanisme kerjanya yang pasti belum dapat dijelaskan.
Pada percobaan binatang Loperamid menghambat motilitas/peristaltik usus dengan mempengaruhi secara langsung pada otot sirkular dan longitudinal dinding usus.
Pada pemberian per oral sebagian besar obat tidak diabsorbsi, tidak menembus jaringan otak dengan baik.

Efek Samping:
Umum:
Flatulen, konstipasi, mual, muntah, nyeri perut.
Reaksi hipersensitif termasuk ruam kulit.
Letih, ngantuk, pusing, megacolon toksik.

Overdosis:
– Konstipasi, mual, depresi susunan saraf pusat.

Peringatan dan Perhatian:
Hati-hati pemberian pada penderita insufisiensi hati dan penyakit ginjal seperti gagal ginjal.

Tidak dianjurkan diberikan pada diare akut karena infeksi E. coli, Salmonella, Shigella.

Jangan diberikan pada hari pertama, karena kotoran justru harus dikeluarkan.

Jangan digunakan melebihi dosis yang dianjuran pada posologi, karena bisa menyebabkan konstipasi.

Jangan digunakan jika diare diikuti dengan demam tinggi atau jika tinja mengandung darah.

Jauhkan dari jangkauan anak-anak.

Pada keadaan overdosis dapat diberikan naloxon bila terjadi gejala atau tanda yang mirip keracunan morfin.

Pasologi:
Diare akut (non spesifik)
Dosis awal: 4 mg, dosis lazim: 2 – 4 mg, 1 – 2 kali sehari.
Dosis tidak boleh melebihi 16 mg per hari.
Diare kronik
Dosis 4 – 8 mg per haridalam dosis bagi tergantung beratnya diare dan respon dari penderita.
Dosis tidak boleh melebihi 16 mg per hari.
Pemberian harus dihentikan bila tidak ada perbaikan setelah 48 jam.

Interaksi Obat:
– Pemberian bersama transquilizer atau alkohol, monoamine oksidase inhibitor harus hati-hati.

Kemasan:
Lopamid tablet dus 10 strip @ 10 tablet.

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Jenis: Tablet

Oralit

 

Indikasi:
Mencegah dan menggobati ‘kurang cairan’ ( dehidrasi) akibat diare/muntaber.

Kontra Indikasi:
Pengemudi kendaraan bermotor dan operator mesin berat jangan minum obat ini sewaktu menjalan kan tugas.
Deskripsi:
N/A

Jenis: Serbuk

Polysilane Tablet

 

Indikasi:
Untuk mengurangi gejala-gejala yang berhubungan dengan asam lambung, gastritis, tukak lambung, tukak usus dua belas jari, dengan gejala-gejala seperti mual, nyeri lambung, nyeri ulu hati, kembung dengan perasan penuh pada lambung.

Kontra Indikasi:
– Jangan di berikan pada penderita gangguan fungsi ginjal yang berat karena dapat menimbulkan hipermagnesia.
– Tidak dianjurkan digunakan terus menerus lebih dari 2 minggu, kecuali atas petunjuk dokter
– Bila sedang menggunakan obat tukak lambung lain seperti simetidin atau antibiotika tetrasiklin, harap di berikan selang waktu 1-2jam.
-tidak dianjurkan pemberian pada anak-anak dibawah usia 6 tahun, kecuali atas petunjuk dokter
-Hati-hati pemberian pada penderita diet fosfor rendah dan pemakian lama karena dapat mengurangi fosfor dalam dara

Deskripsi:
Kombinasi Aluminium Hidroksida dan Magnesium Hidroksida sebagai antasida yang menetralkan asam lambung dan menghangatkan pepsin sehingga mengurangi rasa nyeri ulu hati akibat iritasi akibat asam lambnng dan pepsin.Magnesium hidroksida dengan efek laksatif akan mengurangi afek konstipasi dari aluminium hidroksida.Dimetilpolisiloksan menghilangkan gelembung -gelembung gas dalam saluran cerna sehingga mengurangi rasa kembung.

Jenis: Tablet
Ranitidine Tablet 150 mg

 

Indikasi:
– Tukak lambung dan usus 12 jari
– Hipersekresi patologik sehubungan dengan sindrom Zollinger-Ellison”

Kontra Indikasi:
– Penderita gangguan fungsi ginjal
– wanita hamil dan menyusui

Komposisi :
– Tiap tablet salut selaput mengandung:
Ranitidine hidroklorida setara dengan ranitidine basa 150 mg.

Farmakologi :
Ranitidine menghambat kerja histamin pada reseptor-H2 secara kompotitif, serta menghambat sekresi asam lambung.

Dosis :
– Dosis yang biasa digunakan adalah 150mg, 2 kali sehari
– Dosis penunjang dapat diberikan 150mg pada malam hari
– Untuk sindrom Zollinger-Ellison : 150mg, 3 kali sehari, dosis dapat bertambah menjadi 900mg.
– Dosis pada gangguan fungsi ginjal:
Bila bersihan kreatinin (50ml/menit): 150mg tiap 24 jam, bila perlu tiap 12 jam.
Karena Ranitidine ikut terdialisis, maka waktu pemberian harus disesuaikan sehingga bertepatan dengan akhir hemodialisis.

Efek Samping :
– Efek samping ranitidine adalah berupa diare, nyeri otot, pusing, dan timbul ruam kulit, malaise,nausea.
– Konstipasi
– Penurunan jumlah sel darah putih dan platelet ( pada beberapa penderita ).
– Sedikit peningkatan kadar serum kreatinin ( pada beberapa penderita)
– Beberapa kasus ( jarang ) reaksi hipersensitivitas (bronkospasme, demam, ruam, urtikaria, eosinofilia.

Peringatan dan Perhatian:
– Dosis harus dikurangi untuk penderita dengan gangguan fungsi ginjal
– Hati-hati bila diberikan pada penderita dengan gangguan fungsi hati.
– Keamanan dan keefektifan pada anak-anak belum diketahui dengan pasti.
– Pengobatan penunjang akan mencegah kambuhnya ulkus tetapi tidak mengubah jalannya penyakit sekalipun pengobatan dihentikan.
– keamanan pada gangguan jangka panjang belum sepenuhnya mapan, maka harus dihentikan untuk secara berkala mengamati penderita yang mendapat pengobatan jangka panjang.

Interaksi Obat :
hasil penelitian terhadap 8 penderita yang diberikan ranitidin menunjukkan perbedaan dengan simetidine, ranitidine tidak menghambat fungsi oksidasi obat pada mikrosom hepar.terhadap 5 penderita normal yang diberikan dosis warfarin harian secara subterapeutik, dengan penambahan dosis ranitidine menjadi 200mg, 2 kali sehari selama 14 hari tidak menunjukkan adanya perubahan pada waktu protrombin atau pada konsentrasi warfarin plasma.

Jenis: Tablet
VOMETA FT

 

Indikasi:
– Mual-muntah akut. Tidak dianjurkan pencegahan rutin pada muntah Setelah operasi.
– Mual dan muntah disebabkan oleh pemberian levodopa dan bromokriptin lebih dari 12 minggu.
– Pengobatan simtom dispepsia fungsional. Tidak dianjurkan untuk pemberian jangka lama.
– Mual-muntah pada kemoterapi kanker dan radioterapi.

Kontra Indikasi:
– Penderita hipersensitif terhadap Domperidone.
– Penderita dengan prolaktinoma (salah satu tumor hipofisis) yang mengeluarkan prolaktin.

Komposisi:
Tiap tablet mengandung:
Domperidone 10 mg

Farmakologi:
Domperidone merupakan antagonis dopamin yang mempunyai kerja antiematik. Efek antiematik dapat disebabkan oleh kombinasi efek periferal (gastrokinetik) dengan antagonis terhadap reseptor dopamin di chemoreseptor “trigger zone” yang terletak di luar sawar otak di area postrema.
Pemberian peroral Domperidone menambah lamanya kontraksi antral dan duodenum, meningkatkan pengosongan lambung dalam bentuk cairan dan setengah padat pada orang sehat, serta bentuk padat pada penderita yang pengosongannya terlambat dan menambah tekanan pada sfingter esofagus bagian bawah pada orang sehat.

Dosis dan Cara Pemberian:
Dispepsia fungsional:
Dewasa dan Usia Lanjut:
10 – 20 mg, 3 kali sehari dan 10 20 mg sekali sebelum tidur malam, tergantung respon klinik.
Pengobatan jangan melebihi 12 minggu.
Mual dan muntah (termasuk yang disebabkan oleh levodopa dan bromokriptin):
Dewasa (termasuk usia lanjut):
10 – 20 mg, dengan interval waktu 4 – 8 jam.
Anak-anak (sehubungan kemoterapi kanker dan radio terapi):
0,2 – 0,4 mg/kgBB sehari dengan interval waktu 4 – 8 jam.
Obat diminum 15 – 30 menit sebelum makan dan sebelum tidur malam.
VOMETA FT dalam bentuk fast melting tablet, dapat ditelan tanpa air.

Efek Samping:
– Jarang dilaporkan: sedasi, reaksi ekstraperimidal distonik, parkinson, tardive dyskinesia (pada pasien dewasa dan usia lanjut) dan dapat diatasi dengan obat antiparkinson.
– Peningkatan prolaktin serum, sehingga menyebabkan galaktorea dan ginekomastia.
– Mulut kering, sakit kepala, diare, ruam kulit, rasa haus, cemas dan gatal.

Peringatan dan Perhatian:
– Hati-hati penggunaan pada wanita hamil dan menyusui.
– Tidak dianjurkan penggunaan jangka panjang.
– Hati-hati penggunaan pada penderita gangguan fungsi hati dan ginjal.

Interaksi Obat:
– Domperidone mengurangi efek hipoprolaktinemia dari bromokriptin.
– Pemberian obat antikolinergik muskarinik dan analgetik apioid secara bersamaan dapat mengantagonisir efek Domperidone.
– Pemberian antasida secara bersamaan dapat menurunkan bioavailabilitas Domperidone.
– Efek bioavailabilitas dapat bertambah dari 13% menjadi 23% bila diminum 1,5 jam sesudah makan.

Overdosis:
– Belum ada data mengenai overdosis pada penggunaan Domperidone secara oral.
– Belum ada antidotum secara spesifik yang digunakan pada overdosis Domperidone, mungkin dapat dilakukan dengan cara pengosongan lambung.

Kemasan:
Kotak, 5 blister @ 10 tablet.

Penyimpanan:
Simpan pada suhu dibawah 30 derajat Celcius, terlindung dari cahaya.

HARUS DENGAN DENGAN RESEP DOKTER

Jenis: Tablet
OMEPRAZOLE

 

Indikasi:
OMEPRAZOLE diindikasikan untuk:
– Pengobatan jangka pendek pada tukak usus 12 jari, tukak lambung dan refluks esofagitis erosiva.
– Perawatan sindroma Zollinger – Ellison.

Kontra Indikasi:
Hipersensitivitas terhadap Omeprazol.

Komposisi:
Tiap kapsul mengandung:
Omeprazol………………………………………………………………..20 mg

Cara Kerja Obat:
OMEPRAZOLE termasuk kelas baru senyawa anti-sekresi, suatu benzimidazol tersubstitusi, yang menekan sekresi lambung melalui penghambatan spesifik terhadap sistem enzim H+/K+ ATPase pada permukaan sekresi sel parietal lambung. Karena sistem enzim ini merupakan pompa asam (proton) dalam mukosa lambung, Omeprazol digambarkan sebagai penghambat pompa asam langbung yang menghambat tahap akhir pembentukan asam lambung.
Efek ini berhubungan dengan dosis dan menimbulkan penghambatan terhadap sekresi asam terstimulasi maupun basal tanpa dipengaruhi stimulus.
OMEPRAZOLE tidak menunjukkan efek antikolinergik atau sifat antagonis histamin H2.
Percobaan pada hewan menunjukkan bahwa setelah keluar dengan cepat dari plasma, Omeprazol dapat ditemukan di dalam mukosa lambung selama sehari atau lebih.

Aktivitas Antisekresi
Sesudah pemberian oral, mula kerja efek antisekresi Omerazol terjadi dalam 1 jam, maksimum 2 jam.
Penghambatan sekresi kira-kira 50% dari maksimum dalam 24 jam dan proses penghambatan berlangsung sampai 72 jam.
Efek antisekresi Omeprazol lebih lama dari yang dapat diperkirakan berdasarkan waktu paruh dalam plasma yang sangat pendek (< 1 jam), kemungkinan disebabkan oleh pengikatan enzim H+/K+ ATPase dalam sel parietal yang lebih lama.
Bila obat dihentikan, aktivitas sekresi sedikit demi sedikit kembali normal lebih dari 3 – 5 hari. Efek penghambatan Omeprazol terhadap sekresi asam meningkat dengan pengulangan dosis sekali sehari mencapai puncaknya setelah 4 hari.
OMEPRAZOLE diabsorpsi dengan cepat dalam kadar maksimum pada plasma dicapai antara 0,5 – 3,5 jam.
Bioavailabilitas absolut kira-kira 30% – 40% pada dosis 20 – 40 mg, disebabkan sebagian besar mengalami metabolisme presistemik.
Waktu paruh dalam plasma dicapai 0,5 – 1 jamdan bersihan tubuh total 500 – 600 ml/menit.
Omeprazol terikat dalam protein plasma kira-kira 95%. Bioavailibilitas Omeprazol sedikit meningkat pada pemakaian berulang. Sebagian kecil obat dalam bentuk utuh disekresikan melalui urin. Sekitar 77% dieliminasi melalui urin paling sedikit sebagai enam metabolit, sisanya ditemukan dalam feses.

Efek Samping:
Umumnya dapat ditoleransi dengan baik.
Efek samping berikut biasanya ringan dan bersifat sementara serta tidak mempunyai hubungan yang konsisten dengan pengobatan.
Mual, sakit kepala, diare, konstipasi, kembung, ruam kulit, urtikaria, pruritus jarang terjadi.

Perhatian:
Apabila diduga ada tukak lambung, kemungkinan malignansi harus ditiadakan sebelum pengobatan dengan Omeprazol, karena dapat meringankan gejala-gejala dan memperlama diagnosanya.

Sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil kecuali benar-benar diperlukan.

Interaksi Obat:
Omeprazol dapat memperpanjang eliminasi diazepam, penitoin dengan warfarin. Dianjurkan untuk memantau penderita yang mendapat pengobatan warfarin atau atau fenitoin dan penurunan dosis warfarin atau fenitoin mungkin perlu jika Omeprazol ditambahkan pada pengobatan.
Tidak ditemukan interaksi dengan teofilin, propanolol, metoprolol, lidokaina, kuinidina, amoksisilin atau antasida.
Absorpsi Omeprazol tidak dipengaruhi oleh alkohol atau makanan.

Dosis:
Dosis lazim untuk penderita tukak usus 12 jari atau tukak lambung ringan adalah 20 mg sehari. Penyembuhan dapat dilakukan setelah 4 minggu untuk penderita tukak usus 12 jari dan 8 minggu untuk penderita tukak lambung ringan.
Pada kasus yang berat dosis dapat dinaikkan menjadi 40 mg sekali sehari.

Dosis yang dianjurkan untuk refluks esofagitis erosiva adalah 20 mg sekali sehari selama 4 minggu.
Bagi penderita yang belum sembuh sepenuhnya sesudah tahap awal, penyembuhan biasanya terjadi selama 4 – 8 minggu kemudian.

Pada penderita refluks esofagitis yang sulit disembuhkan dengan pengobatan lain, diperlukan dosis 20 mg sekali sehari.

Dosis awal yang dianjurkan bagi penderita sindroma Zollinger Ellison adalah 60 mg sekali sehari.
Dosis harus disesuaikan untuk masing-masing individu dan pengobatan berlangsung selama indikasi klinis.
Penderita dengan penyakit berat dan yang kurang memberikan respon terhadap pengobatan lain, dapat dikendalikan dengan efektif pada dosis 20 – 120 mg sehari.
Untuk dosis lebih dari 80 mg sehari, harus diberikan 2 kali sehari.

Penyesuaian dosis tidak diperlukan pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal, hati atau untuk lanjut usia.

Penggunaan pada anak-anak belum ada pengalaman.

Kemasan:
Dus isi 3 strip @ 10 kapsul.

Penyimpanan:
Simpan di tempat sejuk dan kering.

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Jenis: Capsul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s